Agung Sudaryono

Agung Sudaryono, M.Pd. pria kelahiran Klaten 8 Mei 1975 yang beralamat di Perum Cipta Jati Permai I.18 Rt.22/Rw. 52 Balecatur Gamping Sleman ini m...

Selengkapnya
Konflik (lagi)

Konflik (lagi)

Setelah saya tulis tentang konflik baik pribadi atau konflik bersama dan memaknai apa sebenarnya konflik itu, bisa kita lihat apa sebenarnya konflik yangbterjadi antara Khabib Nurmagomedov dengan Connor Mc Gregor lalu dilanjutkan antara Miftakhul Jannah dengan Panitia Asia Paralympic. Ada rasa penasaran dan sedikit emosi menyertai tulisan ini. Bagaimana tidak... 2 orang atlet yang membela harga diri bangsa, keluarga dan agama dilecehkan begitu saja oleh orang-orang yang merasa paling...paling tahu..paling bersih..paling menjunjung HAM dan paling demokratis.

Khabib dengan ketenangannya setelah melalu Psywar yang cukup berat...bus rombongannya dilempari batu, dipaksa minum khomer saat jumpa pers, dihina harga diri agama, dan keluarganya saat pertandingan sungguh pressure yang luar biasa. Masih hebat Khabib mengamuk setelah pertandingan usai, setelah ia membuktikan bahwa dirinya memang layak menyandang gelar juara. Bayangkan kita yang ada di sana mungkin kita tidak jadi bertanding karena sudah kalah sebelum bertanding. Belum selesai sampai di situ, ia masih diancam akan kehilangan gelar dan bayaran setelah kejadian itu, dan ironisnya tidak ada sanksi apapun untuk kubu Mc Gregor yang jelas telah menghina dan melanggar nilai asasi manusia.

Tidak jauh beda dengan itu semua orang menyalahkan Miftakhul Jannah seorang Blind Judoka asal Aceh yang notabene tinggal main tetapi harus gagal karane tidak mau meninggalkan jilbabnya. Semua orang menyalahkan kenapa dia memakai hijab saat bertanding Judo yang penuh bantingan dan cekikan, bagaimana kalau sampai kecekik dan mati. Kalau kita pernah bertanding Judo(kebetulan saya pernah) mati ndak harus kecekik, bahkan kalau waktunya sedang goyang dangdut koplo pun akan mati. Dari sisi ini belum pernah ada kasus Judoka mati saat terkena teknik "Shime Waza" atau cekikan ini. Kenapa? Selain ada Atlet Iran yang mengenankan jilbab saat Asian Games Jakarta lalu dan atlet Amerika dalam Olympiade Brazil 2016 teknik dengan memanfaatkan pakaian ini meskipun legal, apalagi sebagai blind Judoka tentu akan tidak mudah melakukan teknik ini. Ada faktor lain yang membuat Miftakhul Jannah yakin yaitu wasit. Wasit ngerti kapap harus menghentikan pertandingan jika seorang atlet dalam bahaya. Pertanyaannya kenapa jika aturannya seperti itu sang manager tetap menurunkan Miftakhul Jannah dalam pertandingan tersebut?

Adakah konflik lain dalam masalah ini...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Astaghfirullah. Semoga kita bisa menjalankan syariat secara kaffah, seperti yang dicontohkan oleh kedua atlet tersebut. Jazakumullah khoiron katsiro untuk tulisan yang sangat mengingatkan ini. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...pak guru.

10 Oct
Balas

Aamiin YRA.. Terimakasih Bund...sesuatu banget dikomentari penulis handal seperti Ibu

10 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali